Menguasai seni lantunan ayat suci Al-Quran memerlukan perpaduan antara ketepatan makhraj, pemahaman tajwid, dan kontrol fisik yang mumpuni. Melalui agenda Workshop Seni Baca Quran, para peserta diajak untuk mendalami aspek teknis yang sering kali terabaikan, yaitu bagaimana mengelola udara agar menghasilkan suara yang merdu dan panjang. Fokus utama dalam pelatihan ini adalah penguasaan teknik pernapasan diafragma yang menjadi fondasi utama bagi seorang qari atau penghafal Al-Quran agar tidak mudah kehabisan napas di tengah ayat. Dalam praktiknya, para instruktur memberikan simulasi mendalam mengenai cara mengatur rongga perut sehingga suara lebih stabil dan memiliki power yang cukup saat mencapai nada-nada tinggi. Sebagai pelengkap materi teknis ini, para santri juga diberikan wawasan mengenai teknik pemecahan ayat agar mereka tahu kapan harus mengambil jeda tanpa merusak makna harfiah dari kalam ilahi tersebut. Dengan penguasaan napas yang benar, seni baca Quran akan menjadi jauh lebih indah didengar sekaligus memberikan kenyamanan fisik bagi pembacanya saat melantunkan ayat dalam durasi yang lama.
Penerapan pernapasan diafragma dalam membaca Al-Quran bukan sekadar urusan estetika, melainkan juga bagian dari kesehatan organ paru-paru. Saat seseorang menggunakan diafragma, asupan oksigen yang masuk ke dalam tubuh menjadi lebih maksimal dibandingkan dengan pernapasan dada yang dangkal. Hal ini sangat membantu konsentrasi seorang pembaca agar tetap fokus pada hukum-hukum bacaan yang sedang dihadapi. Bagi para santri yang sedang berjuang dalam hafalan, napas yang panjang adalah aset berharga yang memudahkan mereka menyelesaikan setoran ayat-ayat panjang dalam sekali hembusan, sesuai dengan standar kaidah tartil yang berlaku di banyak lembaga tahfidz.
Selama workshop berlangsung, peserta diajarkan berbagai latihan fisik sederhana untuk melenturkan otot-otot di sekitar perut dan dada. Latihan ini penting untuk memastikan bahwa udara yang keluar bisa dikontrol secara perlahan dan presisi. Banyak qari pemula yang gagal menjaga stabilitas suara karena mereka membuang oksigen terlalu cepat di awal ayat. Dengan teknik yang benar, getaran suara yang dihasilkan akan lebih bulat dan tidak pecah, sehingga pendengar pun dapat merasakan kekhusyukan dari setiap huruf yang dilantunkan. Keterampilan ini tentu membutuhkan latihan rutin dan tidak bisa dikuasai hanya dalam waktu satu malam saja.