Membaca Al-Quran dengan baik dan benar tidak hanya sebatas pada kefasihan makhraj dan ketepatan tajwid, tetapi juga sangat bergantung pada pemahaman tentang kapan harus berhenti dan kapan harus memulai kembali. Ilmu ini dikenal dengan istilah Waqaf & Ibtida‘. Bagi seorang pembaca Al-Quran, terutama para imam dan penghafal, menguasai ilmu ini adalah sebuah keharusan demi menjaga kesempurnaan makna ayat. Berhenti di tempat yang salah bukan hanya mengganggu alur bacaan, tetapi dalam beberapa kasus ekstrem, dapat merusak atau bahkan memutarbalikkan pesan yang ingin disampaikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya.
Secara harfiah, waqaf berarti berhenti, sementara ibtida’ berarti memulai kembali setelah berhenti. Dalam sebuah panduan berhenti yang benar, seorang pembaca harus memperhatikan tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam mushaf, namun yang lebih penting adalah memahami kaitan makna antar kalimat. Ada kalanya kita terpaksa berhenti karena napas yang tidak mencukupi di tengah ayat yang panjang. Di sinilah letak pentingnya kecerdasan seorang qari. Ia tidak boleh berhenti secara sembarangan di kata yang belum sempurna maknanya, seperti berhenti di antara mudhaf dan mudhaf ilaih atau antara subjek dan predikat yang belum tuntas pesannya.
Setelah melakukan waqaf karena keterbatasan napas, tantangan berikutnya adalah melakukan ibtida’ atau memulai bacaan kembali. Aturan dasarnya adalah pembaca harus mengulang satu atau dua kata sebelumnya agar kalimat yang dibaca kembali utuh secara makna. Mengulang kembali dari posisi yang tepat memastikan bahwa pendengar dapat menangkap pesan ayat secara komprehensif tanpa ada bagian yang terpotong. Ilmu ini menuntut kita untuk memiliki pengetahuan dasar tentang tata bahasa Arab, atau setidaknya kepekaan terhadap struktur kalimat. Di sinilah Al-Quran menguji intelektualitas dan konsentrasi sang pembaca secara bersamaan di setiap embusan napasnya.
Ada beberapa kategori waqaf yang perlu diketahui, mulai dari Waqaf Tamm (berhenti yang sempurna), Waqaf Kafi (berhenti yang memadai), hingga Waqaf Qabih (berhenti yang buruk/salah). Pemahaman mengenai tingkatan-tingkatan ini akan membuat tilawah seseorang terasa lebih berwibawa dan berilmu. Di banyak pusat studi Al-Quran internasional, ujian kelayakan seorang imam seringkali menitikberatkan pada penguasaan waqaf & ibtida’ ini. Seorang imam yang ahli akan tahu persis di mana ia harus mengambil jeda agar jemaah di belakangnya dapat merenungi setiap potongan ayat dengan tenang sebelum ia melanjutkan ke bagian berikutnya.