Tanggung jawab santri di pesantren kini meluas, tidak hanya mencakup ketaatan beribadah dan penguasaan Kitab Kuning, tetapi juga kemampuan wirausaha dan kemandirian ekonomi. Untuk mencapai hal tersebut, pesantren menerapkan Metode Pengajaran kewirausahaan yang unik, mengintegrasikan praktik bisnis nyata langsung ke dalam kehidupan asrama. Metode Pengajaran kewirausahaan ini merupakan bagian esensial dari Kurikulum Life Skill, bertujuan Membekali Santri dengan kemampuan untuk mandiri setelah lulus. Metode Pengajaran yang diterapkan berprinsip pada learning by doing, memastikan Hasil Maksimal bagi kesiapan hidup santri.
Salah satu implementasi utama Metode Pengajaran ini adalah melalui unit usaha mandiri pesantren. Unit-unit ini bisa berupa koperasi, toko, percetakan, atau bahkan pertanian/peternakan. Santri diinstruksikan untuk mengelola unit-unit ini secara bergantian, diawasi oleh Ustadz yang berfungsi sebagai mentor bisnis (Pendidik Sekaligus Teladan). Contohnya, di Pesantren Agrobisnis (fiktif), santri junior bertanggung jawab atas pemeliharaan dan penjualan hasil panen sayuran yang ditanam di lahan pesantren setiap hari Minggu pagi. Pengalaman ini mengajarkan mereka tentang manajemen stok, penetapan harga, dan interaksi dengan konsumen.
Selain praktik langsung, Metode Pengajaran juga diperkuat dengan Project-Based Learning (PBL) yang diselenggarakan oleh Sekolah Pesantren formal di dalamnya. Dalam mata pelajaran ekonomi atau kewirausahaan, santri ditugaskan untuk membuat rencana bisnis dan menjalankan proyek kecil. Bahkan, Mengajar Santri adab dan etika bisnis Islam juga dimasukkan melalui studi kasus dari Kitab Fiqih Muamalah, memastikan bahwa praktik bisnis santri sesuai dengan syariat (Etika Mencari Ilmu).
Pengalaman Hidup Sederhana di asrama juga secara tidak langsung mendukung Metode Pengajaran kewirausahaan ini. Dengan terbiasa hidup sederhana, santri belajar menghargai setiap sumber daya yang ada dan mengelola uang saku mereka dengan bijak. Kewajiban santri senior untuk Mengajar Santri junior (Peer Teaching) juga membangun keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah, yang merupakan soft skill penting bagi seorang wirausahawan. Dengan perpaduan teori agama dan praktik bisnis ini, pesantren berhasil mencetak generasi lulusan yang tidak hanya saleh secara ritual tetapi juga unggul secara ekonomi.