Program Tahfidzul Qur’an (menghafal Al-Qur’an) telah menjadi salah satu gerakan pendidikan yang paling pesat perkembangannya di dunia Islam. Namun, tantangan terbesar setelah menyelesaikan hafalan 30 juz bukanlah pada proses menghafal awal, melainkan pada pemeliharaan hafalan tersebut. Di lembaga-lembaga tahfidz, fokus utama harus beralih pada penguatan Muroja’ah—praktik mengulang hafalan secara berkesinambungan.
Muroja’ah adalah tiang penyangga bagi hafidz/hafidzah. Al-Qur’an diibaratkan unta yang harus selalu diikat; jika dilepas, ia akan lari. Tanpa Muroja’ah yang teratur, hafalan Al-Qur’an akan cepat hilang atau bercampur. Rasulullah $\text{S A W}$ sendiri menekankan pentingnya mengulang hafalan, menjadikannya sebuah sunnah yang harus ditekuni. Oleh karena itu, menciptakan budaya Muroja’ah yang kuat dan disiplin adalah indikator utama keberhasilan suatu institusi tahfidz.
Menguatkan budaya Muroja’ah secara berkesinambungan memerlukan inovasi metodologis dan dukungan lingkungan di lembaga Tahfidzul Qur’an. Beberapa strategi yang diterapkan meliputi:
- Sistem Wajib Setoran Harian: Setiap santri, terlepas dari tingkat hafalannya, diwajibkan menyetorkan minimal satu juz atau lebih per hari kepada asatidz atau murobbiyah. Ini memastikan pengulangan menjadi rutinitas yang tidak terhindarkan.
- Muroja’ah Mandiri dan Jama’i: Selain setoran kepada guru, santri didorong untuk melakukan Muroja’ah mandiri di waktu-waktu luang (seperti setelah salat Subuh atau Maghrib) dan Muroja’ah kelompok (saling menyimak) yang dapat meningkatkan fokus dan akuntabilitas.
- Penggunaan dalam Ibadah: Santri dilatih untuk menggunakan hafalan yang sudah matang dalam salat sunnah (seperti Qiyamul Lail), menjadikan Muroja’ah bukan lagi beban akademik tetapi ibadah yang mendalam.
Lembaga Tahfidzul Qur’an harus menyediakan guru yang berkualitas, tidak hanya sebagai penyimak setoran, tetapi sebagai mentor yang memotivasi santri untuk mencintai proses Muroja’ah. Peran asatidz adalah menanamkan kesadaran bahwa proses pengulangan ini adalah bentuk jihad terbesar setelah menyelesaikan hafalan awal.
Dengan menguatkan Muroja’ah secara berkesinambungan, lembaga Tahfidzul Qur’an memastikan bahwa lulusannya memiliki hafalan yang mutqin (kokoh) dan tidak mudah hilang. Ini adalah warisan terbaik yang dapat diberikan kepada umat: para hafidz/hafidzah yang benar-benar menjaga kitabullah dalam hati dan lisan mereka sepanjang hayat.