Dua tahun yang lalu, sebuah kebijakan kontroversial diambil oleh jajaran pengasuh di lembaga ini. Keputusan untuk mengizinkan alat komunikasi digital masuk ke lingkungan penghafal Al-Qur’an memicu perdebatan sengit di kalangan orang tua, pengajar, hingga pemerhati pendidikan. Hari ini, kita melakukan sebuah Revisit Debat Penggunaan Gadget untuk melihat secara objektif: apakah teknologi tersebut menjadi sarana pendukung (booster) bagi hafalan santri, atau justru menjadi penghambat (distraksi) yang merusak konsentrasi mereka?
Pada masa awal penerapan, Penggunaan Gadget di Tahfidzul Qua dibatasi hanya untuk mengakses aplikasi penunjang murajaah dan kamus digital. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa kontrol terhadap akses internet tidak semudah yang dibayangkan di atas kertas. Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa waktu yang seharusnya digunakan untuk berinteraksi dengan mushaf akan tergerus oleh godaan konten hiburan. Oleh karena itu, Evaluasi tengah periode dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa visi utama pesantren tetap terjaga di tengah kepungan arus informasi.
Berdasarkan data yang terkumpul selama dua tahun terakhir, terdapat temuan yang cukup mengejutkan. Santri yang mampu menggunakan gadget secara bijak justru menunjukkan progres hafalan yang lebih stabil. Mereka memanfaatkan fitur rekaman suara untuk mengoreksi bacaan mandiri dan menggunakan aplikasi pelacak progres untuk memotivasi diri. Di Tahfidzul Qua, teknologi bukan lagi dianggap sebagai musuh, melainkan sebagai “asisten digital” yang membantu efisiensi belajar. Kuncinya terletak pada literasi digital dan pendampingan yang intensif dari para ustadz, bukan sekadar pelarangan atau pembebasan tanpa batas.
Namun, Evaluasi ini juga mencatat adanya kelompok santri yang mengalami penurunan kualitas hafalan akibat ketergantungan pada layar. Penurunan durasi tidur dan berkurangnya fokus saat sesi setoran tatap muka menjadi catatan merah yang serius. Hal ini menunjukkan bahwa Penggunaan Gadget memiliki dua sisi mata uang. Bagi mereka yang belum memiliki kematangan mental dan disiplin diri, teknologi justru menjadi jebakan yang menjauhkan mereka dari target spiritualnya. Fakta inilah yang kemudian memicu manajemen untuk memperketat aturan jam penggunaan dan menyaring jenis konten yang dapat diakses melalui jaringan Wi-Fi internal.
Momen Revisit ini juga membawa kita pada kesimpulan tentang pentingnya kurikulum “Adab Digital”. Di Tahfidzul Qua, santri tidak hanya dididik untuk menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga diajarkan bagaimana menjaga kesucian hati saat memegang perangkat elektronik. Mereka diajarkan bahwa apa yang dilihat oleh mata melalui layar kaca akan berpengaruh pada jernihnya ingatan mereka. Pendidikan karakter ini menjadi sangat krusial, karena di masa depan, mereka akan terjun ke masyarakat yang penuh dengan distraksi digital. Menghafal Al-Qur’an di era modern adalah tentang memenangkan peperangan melawan gangguan perhatian.