Menghafal Al-Quran adalah sebuah kemuliaan, namun menjaga hafalan tersebut agar tidak hilang merupakan tantangan yang jauh lebih besar. Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qua, tantangan ini dihadapi dengan kreativitas yang tinggi melalui pengembangan metode murajaah yang inovatif. Jika biasanya kegiatan mengulang hafalan dianggap sebagai beban yang menjemukan, di pesantren ini suasana tersebut diubah menjadi aktivitas yang penuh semangat dan menyenangkan, sehingga para santri merasa betah berlama-lama dengan mushaf mereka.
Kata “asik” dalam metode ini merujuk pada pendekatan yang tidak kaku. Para santri di Tahfidzul Qua diajak untuk melakukan murajaah dengan berbagai variasi cara. Misalnya, ada sesi murajaah berpasangan di mana dua santri saling menyimak hafalan satu sama lain sambil berjalan-jalan di taman pesantren atau duduk santai di gazebo. Dengan suasana yang lebih kasual, ketegangan mental saat takut salah bacaan dapat diminimalisir. Hal ini sangat penting karena kondisi psikologis yang rileks terbukti mempermudah otak untuk memanggil kembali ingatan yang telah tersimpan.
Selain itu, pesantren juga menerapkan sistem murajaah estafet dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap santri akan membaca satu halaman atau satu surah, lalu dilanjutkan oleh teman di sebelahnya. Metode ini menuntut konsentrasi tinggi karena setiap anggota kelompok harus selalu siap melanjutkan bacaan temannya kapan saja. Keseruan muncul ketika ada santri yang lupa dan teman lainnya memberikan bantuan dengan cara yang edukatif. Melalui interaksi sosial yang positif ini, hafalan tetap terjaga dengan cara yang lebih organik dan tidak terasa seperti paksaan belajar yang berat.
Penggunaan teknologi audio juga menjadi bagian dari metode murajaah di Tahfidzul Qua. Santri diperbolehkan mendengarkan rekaman murottal dari qari-qari internasional untuk memperbaiki tajwid dan irama mereka. Mendengarkan secara berulang-ulang sambil mengikuti bacaan di dalam hati adalah cara efektif untuk memperkuat memori auditori. Dengan demikian, proses pengulangan tidak hanya mengandalkan mata dan lisan, tetapi juga melibatkan pendengaran secara maksimal. Inilah yang membuat proses belajar di Tahfidzul Qua terasa lebih komprehensif.