Wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah adalah peristiwa paling memilukan bagi umat Islam. Momen ini bukan hanya kehilangan seorang Nabi, tetapi juga sosok pemimpin, guru, dan teladan sempurna. Di antara para sahabat, Kesedihan Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi sorotan utama, menunjukkan betapa dalamnya cinta mereka kepada Nabi.
Ketika kabar wafatnya Rasulullah SAW tersiar, Kesedihan Umar memuncak hingga ia tak kuasa menerima kenyataan. Dengan pedang terhunus, Umar berdiri di hadapan kaum Muslimin, berseru bahwa Rasulullah tidaklah wafat, melainkan hanya pergi sejenak dan akan kembali. Ia bahkan mengancam siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah wafat.
Reaksi Umar ini mencerminkan betapa dahsyatnya pukulan emosional yang ia rasakan. Ia adalah seorang yang kuat dan tegas, namun di hadapan kehilangan Rasulullah, ia seolah kehilangan arah. Kesedihan Umar adalah gambaran nyata dari cinta yang mendalam dan ketergantungan spiritual kepada Nabi yang telah membimbingnya.
Di sisi lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan ketenangan yang luar biasa, meskipun hatinya juga hancur. Ia datang ke tempat Rasulullah SAW dibaringkan, menyingkap kain penutup wajah beliau, mencium keningnya, dan berkata, “Betapa harumnya engkau, wahai Rasulullah, baik dalam hidupmu maupun setelah wafatmu.”
Abu Bakar kemudian keluar dan berhadapan dengan Umar yang masih terpukul. Dengan suara tegas namun menenangkan, Abu Bakar membaca firman Allah SWT dari Surat Ali Imran ayat 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?”
Ayat ini segera menyadarkan Umar dan seluruh kaum Muslimin yang hadir. Ucapan Abu Bakar itu ibarat siraman air sejuk di tengah api Kesedihan Umar yang membara. Dengan hikmah dan ketenangannya, Abu Bakar berhasil mengendalikan situasi yang sangat genting, mencegah perpecahan umat.
Peristiwa ini menunjukkan perbedaan karakter namun kesatuan hati antara Umar dan Abu Bakar. Keduanya mencintai Rasulullah dengan sepenuh jiwa. Namun, Abu Bakar diberikan kekuatan oleh Allah untuk tetap tegar dan membimbing umat di saat-saat paling krusial.