Di era transformasi digital yang melaju pesat, anak-anak kini tumbuh di lingkungan yang dikelilingi oleh layar gawai sejak usia dini. Meskipun teknologi menawarkan akses informasi yang luas, penggunaan yang tidak terkendali membawa risiko kesehatan yang serius, terutama bagi indra penglihatan. Fenomena persaingan antara durasi penggunaan gadget vs mata anak telah menjadi perhatian utama bagi para pendidik dan orang tua di seluruh dunia. Paparan sinar biru (blue light) dan kebiasaan menatap layar dalam jarak dekat dalam durasi yang lama dapat memicu sindrom penglihatan komputer hingga risiko miopia atau rabun jauh yang semakin meningkat secara drastis pada anak-anak usia sekolah dasar.
Menyikapi tantangan zaman ini, lembaga Tahfidzul Qua meluncurkan sebuah gerakan edukasi masif yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan hidup anak-anak antara dunia digital dan aktivitas fisik. Melalui sebuah kampanye yang dirancang secara kreatif, organisasi ini memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai batasan aman penggunaan perangkat elektronik bagi anak. Fokus utama kampanye ini adalah mengedukasi orang tua mengenai aturan “20-20-20”, yaitu setiap 20 menit menatap layar, anak harus mengalihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan otot mata. Langkah sederhana ini dianggap sangat efektif dalam mencegah kelelahan mata kronis pada generasi muda.
Inisiatif dari Tahfidzul Qua ini tidak hanya berfokus pada pelarangan, melainkan pada moderasi dan penyediaan alternatif aktivitas yang lebih bermanfaat. Sebagai lembaga yang fokus pada pembentukan karakter dan hafalan, Tahfidzul Qua mendorong anak-anak untuk lebih banyak berinteraksi dengan media cetak, menghafal teks suci secara langsung, dan melakukan aktivitas luar ruangan yang kaya akan paparan cahaya matahari alami. Cahaya matahari telah terbukti secara ilmiah membantu pelepasan dopamin di retina yang dapat menghambat pemanjangan bola mata penyebab miopia. Dengan menyeimbangkan waktu antara menatap layar dan menatap alam, kesehatan mata anak dapat terjaga dengan lebih optimal di tengah gempuran teknologi informasi.
Target utama dari gerakan ini adalah terciptanya generasi sehat yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki ketahanan fisik yang mumpuni. Mata yang sehat merupakan modal utama bagi anak untuk dapat belajar dengan nyaman dan menangkap detail informasi di ruang kelas. Tahfidzul Qua melakukan skrining kesehatan mata secara rutin di berbagai sekolah binaan untuk mendeteksi secara dini jika ada anak yang sudah mulai mengalami penurunan tajam penglihatan. Program ini juga mencakup pemberian bantuan kacamata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang terdeteksi mengalami gangguan refraksi akibat paparan gawai yang berlebihan, sehingga mereka tidak tertinggal dalam proses akademik.